UPDATEINDONESIA.COM - Upaya penurunan stunting di Kota Bontang, Kalimantan Timur menunjukan tren positif. Berdasarkan hasil Operasi Timbang Jilid II, Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Bontang mencatat prevalensi stunting turun menjadi 15,6 persen dari periode sebelumnya 17,4 persen.
Kepala Diskes Bontang, Bahtiar Mabe, menegaskan bahwa capaian ini merupakan progres signifikan dari kerja lintas sektor yang terus diperkuat. Operasi timbang jilid II yang menyasar 9.769 balita tersebut berjalan dengan cakupan 100 persen.
“Semua data detail per kelurahan akan kami sampaikan dalam rapat koordinasi awal bulan depan,” ujarnya.
Bahtiar Mabe menerangkan bahwa tantangan terbesar setelah penurunan angka stunting adalah menjaga tren tersebut tetap stabil. Pengawasan terhadap ibu hamil menjadi kunci utama. Nutrisi seimbang, pendampingan berkelanjutan, serta cakupan pelayanan gizi yang optimal perlu dipastikan berjalan konsisten.
Tak hanya itu, kelompok calon pengantin (catin) juga menjadi sasaran intervensi. Mereka wajib memperoleh edukasi dan suplementasi, termasuk pemberian tablet tambah darah maupun Multi Micronutrient Supplement (MMS).
BACA JUGA : IDI Bontang Tingkatkan Literasi Kesehatan Lewat Program Goes to School
“Remaja putri tetap menjadi fokus karena mereka berkaitan langsung dengan risiko anemia dan kualitas kehamilan di masa depan,” jelas Mabe.
Untuk kasus stunting yang telah terdata, Diskes terus memberikan Makanan Bergizi (MBG). Tahun depan, program ini diperluas tidak hanya untuk kelompok pelajar, tetapi juga balita dan ibu hamil.
“Ekspansi program ini diyakini efektif menekan munculnya kasus stunting baru,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa stunting memiliki masa pemantauan hingga usia lima tahun. Intervensi tepat waktu dinilai lebih efektif daripada sekadar menangani kasus lama.
“Adanya kasus baru antara dua periode operasi timbang adalah alarm penting bagi kita semua,” tegasnya.
BACA JUGA : Pasca Putranya Diterkam Buaya, Syamsuddin Tuntut Pemerintah Bangun Penangkaran
Bahtiar Mabe menambahkan bahwa pengentasan stunting tidak mungkin dilakukan Diskes seorang diri. Ada sembilan instansi yang memegang peran vital, termasuk DP3AKB yang bertanggung jawab mencegah pernikahan dini.
Dengan intervensi terarah, Dinkes Bontang optimistis angka stunting bisa turun hingga dibawah 14 persen tahun depan, lebih cepat dari target nasional 2029 sebesar 14,8 persen.
Sementara itu, Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, mengapresiasi tren penurunan stunting dalam delapan bulan terakhir. Namun, ia mengingatkan agar semua pihak tidak terlena. Mengingat, target prevalensi 14,4 persen pada 2029 dan 5 persen pada 2045.
“Target ini hanya bisa dicapai melalui kerja konsisten dan kolaborasi masif,” tenas Neni.
BACA JUGA : Bontang Catat Penurunan Stunting Signifikan, Pemprov Kaltim Beri Apresiasi
Karena itu, ia menekankan bahwa penanganan stunting bukan hanya tugas pemerintah melainkan Ini gerakan bersama. Mulai dari keluarga, lingkungan, hingga masyarakat luas harus konsisten menjaga kesehatan dan kebersihan.
Neni juga menyoroti pentingnya intervensi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Ia menegaskan bahwa upaya tidak cukup hanya dengan pemberian makanan tambahan (PMT). Masalah sanitasi, termasuk jamban sehat dan akses air bersih menjadi tantangan yang harus ditangani.
“Literasi digital juga sangat berpengaruh terhadap pola asuh. Orangtua harus waspada terhadap konten negatif yang mempengaruhi psikologis dan tumbuh kembang anak,” ujarnya.
Sebagai upaya pencegahan, Pemerintah Kota Bontang saat ini tengahan menjalankan strategi simultan melalui, program inovasi “Saskia Hebat”, Operasi Timbang berkelanjutan, Integrasi dengan program kebersihan lingkungan GESIT (Gerakan Sampahku, Tanggung Jawabku).
Dengan perpaduan intervensi gizi, sanitasi, dan pola asuh yang cerdas, Neni optimis Bontang mampu mempercepat terbentuknya generasi sehat dan bebas stunting. “Dengan kepatuhan ibu hamil dan calon pengantin dalam mengonsumsi MMS, peluang mencegah stunting baru semakin besar,” pungkasnya. (*)

Wali Kota Bontang, - Neni Moerniaeni