UPDATEINDONESIA.COM - Upaya penanganan stunting di Kota Bontang menunjukkan hasil menggembirakan. Berdasarkan capaian timbang anak tahap pertama pada Mei 2025, angka prevalensi stunting berhasil ditekan menjadi 17,4 persen.
Pergerakan positif ini berlanjut pada timbang anak tahap kedua yang dilaksanakan pada awal November 2025. Dengan capaian 100 persen sasaran, prevalensi stunting kembali turun menjadi 16,34 persen. Penurunan ini dinilai sebagai progres signifikan dibandingkan awal tahun.
Di antara seluruh wilayah kerja puskesmas, Puskesmas Bontang Barat menjadi yang terbaik, mencatat prevalensi stunting terendah yakni 12 persen.
Pemerintah Kota Bontang menargetkan timbang anak tahap ketiga dapat dilaksanakan sebelum memasuki tahun 2026 sebagai bagian dari upaya memastikan tren penurunan tetap konsisten.
Keberhasilan Bontang menekan angka stunting turut mendapat apresiasi dari Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Seno Aji. Ia menyebut Bontang sebagai salah satu dari tiga daerah dengan capaian terbaik di bawah rata-rata provinsi, bersama Kutai Kartanegara dan Samarinda.
“Kami apresiasi tiga kabupaten dan kota yaitu Kutai Kartanegara yang sudah jauh di bawah rata-rata provinsi, kemudian Bontang dan Samarinda. Ketiganya berhasil menurunkan angka stunting,” ujar Seno Aji.
BACA JUGA : Neni Menilai Kasus Perceraian ASN di Bontang Masih Mengkhawatirkan
Meski demikian, Wagub menegaskan masih ada daerah yang membutuhkan penanganan lebih intensif, seperti Kutai Timur dan Balikpapan, yang prevalensinya masih berada di atas angka provinsi maupun nasional.
“Daerah-daerah ini memerlukan perhatian khusus agar tingkat prevalensi stunting di Kaltim bisa benar-benar berada di bawah angka nasional,” tegasnya.
Seno menjelaskan percepatan penurunan stunting di Kaltim dilakukan sesuai Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting. Dalam regulasi tersebut terdapat dua pilar utama, yakni Intervensi Spesifik dan Intervensi Sensitif.
Menurutnya, intervensi sensitif memerlukan komitmen lintas sektor yang kuat, sedangkan intervensi spesifik menjadi faktor paling krusial dalam menurunkan angka stunting.
“Intervensi spesifik ini harus dilakukan secara masif melalui OPD terkait di masing-masing daerah,” ungkapnya.
BACA JUGA : PGB Open Turnamen 2025 Tuai Pujian, Pemprov Kaltim Siap Gelar Turnamen Golf di Bontang
Wagub juga menyoroti tantangan teknis, terutama pengukuran pada anak usia 0–11 bulan yang rentan menunjukkan fluktuasi hasil berat dan tinggi badan. Kondisi tersebut sering memengaruhi akurasi prevalensi stunting.
“Anak usia di bawah satu tahun sering kali terlihat tidak sesuai standar, tetapi setelah mendapatkan penanganan orang tua dan fasilitas kesehatan, mereka dapat tumbuh dengan cepat,” jelasnya.
Dengan tren penurunan yang terus berlanjut serta komitmen kuat dari pemerintah daerah, Seno optimistis Kalimantan Timur mampu menurunkan prevalensi stunting secara signifikan dan mencapai target nasional dalam beberapa tahun mendatang.
Pemerintah Provinsi Kaltim menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor, penguatan data, serta pelaksanaan intervensi tepat sasaran untuk memastikan seluruh daerah dapat bergerak seirama dalam menuntaskan persoalan stunting. (red)

Wakil Gubernur Kalimantan Timur - Seno Aji