AS Sebut Ukraina Setuju Damai, Kyiv Membantah! Putin Ngamuk

Langit Ukraina kembali memanas saat Rabu dini hari, rudal dan drone Rusia menghujani kota-kota dari Kyiv hingga Zaporizhzhia. (FOTO : Merdeka.com)

UPDATEINDONESIA.COM - Upaya baru Amerika Serikat untuk mendorong berakhirnya perang Rusia - Ukraina kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump mengklaim adanya “kemajuan besar” dalam proses negosiasi. 

Klaim itu muncul usai rangkaian pembicaraan intensif di Jenewa dan Abu Dhabi yang dirancang sebagai terobosan diplomatik terbesar sejak invasi Rusia dimulai pada 2022.

Dalam pertemuan Abu Dhabi, seorang utusan militer AS bahkan menyebut bahwa “Ukraina telah setuju dengan kesepakatan damai.” Namun, pernyataan itu segera dipatahkan oleh sumber senior Ukraina yang terlibat langsung dalam perundingan. Mereka menegaskan bahwa kesepakatan masih jauh dari kata final.

Menurut laporan CNN, sebagian besar dari 28 proposal perdamaian yang bocor pekan lalu memang telah mencapai titik temu. Tetapi terdapat tiga isu besar yang masih menjadi jurang pemisah antara Washington, Kyiv, dan syarat-syarat keras dari Moskow.

1. Status Wilayah Donbas

AS mengusulkan agar wilayah yang direbut Rusia — termasuk kota-kota strategis yang menjadi sabuk pertahanan Ukraina dijadikan zona demiliterisasi yang dikelola Rusia.

Ukraina mengakui ada “kemajuan tertentu”, namun belum siap memberikan persetujuan akhir. Penyerahan efektif kontrol wilayah tetap menjadi garis merah Kyiv.

2. Pembatasan Kekuatan Militer Ukraina

Proposal AS membatasi militer Ukraina maksimal 600.000 personel. Kyiv menilai angka itu terlalu kecil, mengingat ancaman Rusia masih sangat nyata. Pemerintah Ukraina telah mengajukan revisi untuk mempertahankan kapasitas pertahanannya.

3. Penghentian Ambisi Bergabung dengan NATO

Syarat ini disebut yang paling tidak dapat diterima Ukraina. Kyiv menegaskan bahwa membekukan proses keanggotaan NATO akan menciptakan preseden buruk dan memberi Rusia hak veto de facto terhadap aliansi Barat.

Ketiga poin ini diyakini merupakan syarat minimum Moskow untuk menghentikan operasi militernya, tetapi juga merupakan batas yang sulit dilampaui bagi Ukraina, yang telah kehilangan puluhan ribu prajurit dalam mempertahankan wilayahnya.

Sementara meja diplomasi masih buntu, situasi di lapangan justru memburuk. Rusia kembali menggempur kota Zaporizhzhia melalui serangan drone besar-besaran pada Selasa malam waktu setempat.

Mengutip Al-Jazeera, setidaknya 11 serangan udara menghantam kota tersebut, memicu kebakaran hebat dan melukai sedikitnya 18 orang. Sebanyak 31 gedung tinggi, 20 rumah, dan sejumlah infrastruktur vital dilaporkan rusak. Ini menjadi serangan ke-771 yang menargetkan Zaporizhzhia sejak perang dimulai.

Reuters melaporkan, Gubernur Zaporizhzhia Ivan Fedorov menyebut tujuh blok apartemen dan puluhan kendaraan mengalami kerusakan berat. 12 warga masih dirawat di rumah sakit.

Petugas pemadam kebakaran berjibaku memadamkan api di blok-blok apartemen, sementara evakuasi korban masih berlangsung.

Rusia mengklaim telah menguasai sebagian besar wilayah Zaporizhzhia, tetapi ibukotanya tetap di bawah kontrol Ukraina. Di sisi lain, pejabat pro-Rusia Yevgeny Belitsky menuduh Kyiv menyerang jaringan listrik di wilayah pendudukan hingga menyebabkan 40.000 pelanggan mengalami pemadaman.

Salah satu poin dalam proposal AS mengusulkan mengaktifkan kembali PLTN Zaporizhzhia di bawah pengawasan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA). Listrik dari reaktor akan dibagi dua untuk Rusia dan Ukraina, sebuah skema yang masih mengundang perdebatan sengit karena menyangkut kontrol energi dan keamanan nuklir.

Hingga kini, tak ada sinyal positif bahwa ketiga isu utama yang menghambat proses negosiasi dapat disepakati dalam waktu dekat. Di satu sisi, Trump dan timnya berusaha optimis.

Namun di sisi lain, pertempuran terus berlangsung, kota-kota kembali terbakar, dan diplomasi masih terhenti pada batas-batas yang sulit dijembatani.

Perang yang memasuki tahun ketiga ini tampaknya masih jauh dari akhir, sementara jutaan warga sipil tetap berada di garis depan ketidakpastian. (*)