UPDATEINDONESIA.COM - Sosok muda Indonesia yang menginspoirasi, Abdul Haris Agam, atau yang akrab dikenal sebagai Agam Rinjani, menerima Medali Kofi Annan dalam rangkaian Konferensi Iklim PBB COP30 di Belém, Brazil.
Penghargaan itu diberikan oleh Global ESG Institute sebagai bentuk apresiasi atas aksi kemanusiaan Agam yang dinilai mencerminkan solidaritas, keberanian, dan nilai kemanusiaan yang mendalam.
“Ketika dunia semakin dipenuhi orang-orang yang hanya mementingkan diri sendiri, Agam menunjukkan bahwa masih ada sosok yang rela berkorban untuk sesama,” ujar Director of International Relationship Global ESG Institute, Paola Comin, seperti dikutip dari akun Instagram @agam_rinjani.
Kehadiran Agam di COP30 bukan sekadar sebagai tamu. Ia menjadi salah satu figur paling mencuri perhatian setelah kisahnya mengevakuasi jenazah pendaki asal Brasil di Gunung Rinjani viral dan menyentuh hati publik Brasil.
Agam tiba di Belém sebagai bagian dari delegasi Indonesia yang difasilitasi Kementerian Kehutanan. Selama berada di COP30 sejak 12 November, ia aktif mengunjungi paviliun negara-negara peserta untuk mempelajari berbagai solusi lingkungan yang berpotensi diadaptasi di Indonesia.
“Di sini saya belajar banyak. Orang Brasil sama baiknya dengan orang Indonesia, sama-sama murah senyum dan ramah. Semoga kita bisa saling belajar,” tulis Agam di akun Instagramnya.
BACA JUGA : Tak Gentar Tekanan, Dokter Tifa Tetap Kritisi Ijazah Jokowi
Dari paviliun China, Agam mempelajari konsep pengolahan sampah menjadi bioenergi dan souvenir bernilai ekonomi. Sementara dari paviliun Jepang, ia terinspirasi oleh teknologi panel surya yang tetap bekerja meski cuaca berkabut. Menurutnya inovasi itu relevan untuk kondisi Gunung Rinjani.
Viral dari Rinjani ke Brasil
Ketenaran Agam bermula ketika ia dan rekannya, Tyo, memutuskan terbang dari Jakarta ke Lombok demi membantu proses evakuasi pendaki Brasil yang terjatuh di Gunung Rinjani. Bekerja bersama Basarnas, aparat keamanan, petugas taman nasional, dan relawan lainnya, upaya itu akhirnya berhasil meski kondisi korban sudah tidak bernyawa.
Bagi publik Brasil, aksi Agam bukan sekadar pertolongan, tetapi simbol solidaritas antar manusia. Di COP30, warga Brasil menyambutnya dengan hangat bahkan mengajak foto bersama di banyak kesempatan, termasuk saat ia berkunjung ke kapal Greenpeace Rainbow Warrior.
“Orang Brasil menganggap Agam sebagai pahlawan sejati. Setelah semua otoritas Indonesia tidak mampu menyelamatkan, Agam berhasil melakukannya. Ini penting bagi kami,” warga Brasil yang hadir di Belém, Mairla Santos, sebagaimana dikutip, situs ekuatorial
Ditawari Proyek Film Netflix: Namaku Rinjani
Ketenaran Agam tidak berhenti di COP30. Ia mengungkap bahwa tim Netflix Brasil telah menghubunginya sejak awal kisahnya viral. Proyek film dokumenter berjudul sementara “Namaku Rinjani” kini sedang digarap.
Proses syuting akan dilakukan di Brasil serta Indonesia, meliputi Jakarta, Lombok, hingga Makassar. Salah satu bagian yang dinilai menarik ialah latihan penyelamatan bersama tim rescue Brasil.
Agam menegaskan bahwa kehadirannya di COP30 bukan hanya tentang penghargaan atau popularitas. Ia melihat momentum ini sebagai gerakan moral untuk turut mengawasi implementasi kebijakan iklim.
“Kalau resolusi dunia disepakati di sini, kita harus kawal apakah pemerintah benar-benar membawa hasilnya ke kebijakan nasional. Kalau tidak, saya bakal bicara di media,” ujarnya.
BACA JUGA : Potret Buram Infrastruktur Kaltim di Tengah Melimpahnya Kekayaan Alam
COP30, yang berlangsung 6–21 November 2025, menyoroti isu percepatan aksi iklim global agar target pembatasan kenaikan suhu 1,5°C dapat tercapai. WHO dan pemerintah Brasil melaporkan bahwa lebih dari 540.000 orang meninggal setiap tahun akibat panas ekstrem, menjadikan agenda adaptasi iklim sebagai prioritas utama.
Ingin Pulang Menjaga Rinjani
Usai pulang dari Brasil, Agam telah menyiapkan rencana konkret. Ia berencana melakukan aksi penanaman pohon di kawasan Gunung Rinjani pada musim hujan mendatang sebagai bagian dari upaya menjaga ekosistem gunung yang menjadi UNESCO Global Geopark seluas 41.330 hektar itu.
“Sampah gunung bisa banyak sekali. Energi juga dibutuhkan jika ada bencana. Kita harus mulai dari hal kecil tapi berdampak,” kata Agam.
Kisah Agam Rinjani bukan sekadar viral atau kisah heroisme sesaat. Ia menjadi contoh bagaimana keberanian, aksi kemanusiaan, dan kepedulian lingkungan dari seorang warga biasa dapat menggema hingga ke panggung global.
Di COP30, Agam berdiri sebagai representasi dari kekuatan lokalitas yang mampu menembus diplomasi internasional sekaligus membawa pesan bahwa perubahan iklim dan kemanusiaan adalah dua agenda yang tidak bisa dipisahkan.
Saat kembali ke Lombok, ia membawa lebih dari sekadar penghargaan. Ia membawa misi, pengetahuan, dan komitmen baru untuk menjaga Rinjani, gunung setinggi 3.726 meter yang kini bukan hanya ikon alam, tetapi simbol masa depan bumi. (*)

Agam Rinjani Raih Medali Kofi Annan di COP30, Kisahnya Dilirik Netflix untuk Film Dokumenter