Mengenal B30 Serta Bahan Bakunya

share on:
Program Mandatori B0, B20, B30, dan B100

TEKNO UPDATE- Program Mandatori B30 persen (campuran biodiesel 30% dan 70% BBM jenis solar) mulai diimplementasikan secara serentak di seluruh penjuru tanah air sejak 1 Januari 2020.

B30 adalah pencampuran antara bahan bakar diesel atau solar dengan FAME (Fatty Acid Methyl Ester), yaitu bahan bakar nabati dari kelapa sawit. Komposisinya yaitu 70% solar dan 30% FAME.

Implementasi B30 mengacu pada Keputusan Menteri ESDM No 227 Tahun 2019 tentang penetapan komposisi FAME dari B20 menjadi B30. Indonesia menjadi negara pertama yang menerapkan bahan bakar terbarukan tersebut.

Sesuai Perpres 191 tahun 2014, Biosolar B30 tergolong BBM bersubsidi yang peruntukannya hanya bagi usaha mikro, kapal nelayan dan pertanian.

Juga bagi kendaraan transportasi darat, kecuali mobil barang untuk pengangkutan hasil kegiatan perkebunan dan pertambangan dengan jumlah roda lebih dari enam buah.

B30 diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM. Bahkan, melalui implementasi B30 digadang-gadang dapat menghemat devisa hingga Rp63 triliun.

Penerapan B30 juga dinilai memiliki dampak pada peningkatan permintaan domestik akan CPO (Crude Palm Oil). Disamping juga menimbulkan multiplier effect terhadap 16,5 juta petani kelapa sawit Tanah Air. 

Untuk saat ini, bahan baku biodiesel yang digunakan di Indonesia sebagian besar berasal dari minyak sawit (CPO). 

Selain dari CPO, tanaman lain yang berpotensi untuk bahan baku biodiesel antara lain tanaman jarak, jarak pagar, kemiri sunan, kemiri cina, nyamplung dan lain-lain.

Indonesia sendiri menjadi negara penghasil sawit terbesar di dunia. Potensi itu harus dimanfaatkan guna mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional.

Terobosan baru ini mulai diimplementasikan pada tahun 2008 dengan kadar campuran biodiesel sebesar 2,5%. Secara bertahap kadar biodiesel meningkat hingga 7,5% pada tahun 2010.

Pada periode 2011 hingga 2015 persentase biodiesel ditingkatkan dari 10% menjadi 15%. Selanjutnya pada tanggal 1 Januari 2016, B20 mulai diimplementasikan untuk seluruh sektor terkait.

Program Biodiesel 20% (B20) berjalan dengan baik dengan adanya dukungan kapasitas produksi yang cukup, uji kinerja/uji jalan, pemantauan secara berkala atas kualitas dan kuantitas oleh tim independen, serta penyusunan Standar Nasional Indonesia (SNI).

Uji Jalan (Road Test) untuk kendaraan dengan kapasitas <3,5 ton dan >3,5 ton dilaksanakan selama bulan Mei - November 2019 dengan melibatkan Kementerian ESDM, BPDPKS, BPPT, PT Pertamina (Persero), APROBI, GAIKINDO, dan IKABI.

Keberhasilan dari penggunaan B30 tergantung kepada 3 (tiga) faktor yaitu kualitas bahan bakar (biodiesel dan solar), handling/penanganan bahan bakar dan juga kompatibilitas material terhadap bahan bakar tersebut.

Sejauh ini Pertamina telah mendistribusikan B30 di dua Provinsi, yaitu Sumatera Utara dan Aceh. (*/rus)


share on: