12 Embrio Serikat Pekerja Deklarasi Terbentuknya ASPB Bontang

share on:
Panitia deklarasi ASPB Bontang (Foto-Sena updateindonesia.com)

UPDATE BONTANG- Hadir mengusung visi "semangat berjuang, sejahtera bersama" Asosiasi Serikat Pekerja/Buruh (ASPB) Bontang  bertekad mewujudkan pertumbuhan ekonomi nasional untuk kemakmuran dan kesejahteraan buruh.

Pernyataan tersebut diikrarkan dalam deklarasi 12 embrio serikat pekerja (SP) yang tergabung di dalam anggota ASPB Bontang, di Gedung Auditorium Taman 3D, Sabtu (22/2) pagi.

Namun, untuk merealisasikan cita-cita mulia itu, ASPB Bontang dihadapkan pada sejumlah tantangan berat kedepannya. Salah satunya adalah persoalan dinamika ketenagakerjaan yang semakin komplit dan belum sepenuhnya menciptakan solusi yang baik. 

Sehingga membutuhkan usaha serta kerja keras untuk menghadapinya. "Kondisi ini dipengaruhi oleh beberapa lembaga pemerintah serta perusahaan di Indonesia, yang belum sepenuhnya menciptakan solusi yang baik, termasuk menolak RUU Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja (CILAKA)," ucap Ketua Umum ASPB Bontang, Fajar Gunawan.

Fajar menyebut ASPB Bontang lahir sebagai wadah untuk memperjuangkan nasib 3200 buruh dari 12 serikat pekerja (SP), meliputi SP LNG badak, SP Badak LNG Bersatu (BLB), SP Forum Komunikasi Pekerja Penunjang Migas (FKPPM), SP Produksi Pupuk Kaltim (Pro PKT), SP Kaltim Nusa Etika Perbantuan PKT.

Berikutnya, SP Yepeka Usaha Mandiri (YUM), SP Kaltim Medika Utama (KMU), SP Kaltim Satria Samudera (KSS), SP Borneo Etam Samudera (BES), SP Pos Indonesia cabang Bontang, SP KNE Intern, dan Asosiasi Karyawan Kaltim Parna Industri (AKKPI) 

"Tidak menutup kemungkinan SP yang lain akan bergabung, karena kami tetap membuka peluang untuk mereka," tungkasnya.

Fajar juga berharap keberadaan ASPB Bontang dapat menciptakan hubungan industrial yang harmonis, antara SP dengan pengusaha yang ada. Misalnya, pengusaha dan pekerja harus punya pemahaman yang sama bahwa mereka sama-sama mempunyai masa depan.

"Fenomena buruh di Bontang ini ibarat gunung es, terlihat baik dari dalam tapi diluar tidak. Untuk itu kami akan menelaah beberapa regulasi yang dinilai merugikan pekerja buruh, termasuk menolak RUU Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja (CILKA) dan PP Nomor 78 Tahun 2015 tentang upah pekerja," ucapnya.

Sebelumnya, testimoni deklarasi ASPB Bontang di barengi penyampaian aspirasi jiwa serikat pekerja, pemotongan tumpeng, dan pembubuhan tandatangan diatas spanduk yang diawali oleh Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni, diikuti perwakilan dari masing-masing serikat pekerja. 

Dalam kesempatan itu, Walikota Neni menyampaikan apresiasi terbentuknya ASPB. Dia berharap berbagai permasalahan dapat dikoordinasikan dengan baik. Serta organisasi tersebut dapat memfasilitasi semua Serikat Pekerja yang ada.

"Bekerjalah dengan baik dan ikhlas, Jangan mencari keuntungan dalam organisasi," pintah Neni. (sena) 


share on: